google-site-verification: google81f2ee356101f507.html Ngaji Gus Baha: KORAN
Open top menu
Tampilkan postingan dengan label KORAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KORAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 14 Mei 2019
Drama Pejuang Sinema



SOLO - Dirilis sejak 8 Juli 2017, film dokumenter Balada Bala Sinema masih laris di ruang-ruang pemutaran film alternatif. Kamis dua pekan lalu, 2 Mei 2019, film yang merekam perjuangan Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga itu menjadi film utama pembuka Pesta Film Solo (PSF) #9 yang diselenggarakan Kine Klub FISIP UNS di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kota Surakarta.

"Alhamdulillah, di situ saya kadang merasa bernasib lebih baik daripada film-film Indonesia lainnya yang dibuat dengan budget miliaran tapi umurnya cuma seminggu di bioskop. Habis itu hilang entah kemana," tulis sutradara Balada Bala Sinema, Yuda Kurniawan, di akun instagramnya.

Selain di PSF #9, tahun ini Balada Bala Sinema juga telah menyambangi sejumlah bioskop alternatif seperti Jatiwangi Sinematek di Majalengka pada 3 Februari, Mini Sinema Sang Akar di Jakarta Selatan pada 23 Maret, dan jaringan mitra Indicinema Bandung (tersebar di sejumlah kota di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi) sejak Januari - April.

Sebelum bertualang ke berbagai bioskop alternatif, Balada Bala Sinema juga telah berkelana ke berbagai ajang film bergengsi di dalam maupun luar negeri, di antaranya Indonesia Film Festival 2017, Singapore International Film Festival 2017, Jogja NETPAC Asian Film Festival 2017, Indonesian On Screen di Berlin, Jerman, 2018, dan Asian Film Festival Barcelona 2018.

Nasib baik Balada Bala Sinema, yakni tetap eksis di dunia perfilman Indonesia meski umurnya sudah hampir dua tahun sejak diputar perdana di Purbalingga Film Festival 2017, tidak terlepas dari pergerakan komunitas-komunitas film di berbagai daerah.

Berkat kegigihan komunitas-komunitas film yang menolak tunduk pada kemapanan industri film yang menghamba pada selera pasar, terciptalah ruang-ruang pemutaran alternatif bagi Balada Bala Sinemadan film independen lain karya anak bangsa yang tidak tertampung di gedung-gedung bioskop komersial.

Sebagai wujud penghargaannya kepada komunitas-komunitas yang tak kenal lelah membangun budaya literasi film ke berbagai pelosok daerah, Yuda dan rekannya Damar Ardi bertekad membuat Balada Bala Sinema.

“Film ini saya dedikasikan kepada Bowo Leksono dan para Punggawa CLC Purbalingga yang tak kenal lelah mencetak sineas-sineas baru yang berprestasi,” kata Yuda, sineas kelahiran Ruteng, Manggarai, NTT yang meraih Piala Citra 2018 untuk kategori film dokumenter panjang terbaik berkat karya terbarunya, Nyanyian Akar Rumput.


Balada Bala Sinema mengisahkan tentang CLC Purbalingga, komunitas pegiat film yang didirikan Bowo Leksono sejak 2006. Bowo Leksono adalah mantan jurnalis asal Purbalingga yang cukup produktif memproduksi film fiksi dan dokumenter.

Dalam film berdurasi 107 menit itu Yuda dan Damar merangkum betapa panjang dan terjalnya jalan yang ditempuh CLC dalam merintis dan membangun budaya literasi film di Purbalingga dan di kabupaten sekitarnya seperti Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.

Selama lebih dari setahun, 2015 - 2016, Yuda mengikuti aktivitas keseharian Bowo dan CLC-nya. Mulai dari kegiatan CLC saat mendampingi para pelajar yang memproduksi film pendek hingga kesibukan saat menyelenggarakan Festival Film Purbalingga 2016. Dalam festival tahunan yang berlangsung sebulan penuh itu, CLC menggelar pemutaran film dengan layer tancap dari kampung ke kampung.


Sebagai film yang sejak awal didedikasikan untuk mengenalkan CLC Purbalingga ke khalayak ramai, Yuda sengaja menggunakan teknik pengambilan gambar yang sederhana. Layaknya video karya jurnalistik, film ini memberikan porsi wawancara yang cukup besar bagi Bowo dan kawan-kawan seperjuangannya untuk menceritakan berbagai hal yang mereka kerjakan tanpa dukungan dari pemerintah daerah.

Kendati demikian, Balada Bala Sinema bukanlah film yang membosankan. Berkat ketajaman insting Yuda yang terasah selama menekuni dunia dokumenter sejak kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (angkatan 2001), beragam momen penting yang berharga untuk membangun ketegangan dalam cerita tak pernah luput dari sorotan kameranya.

Pada menit-menit awal, penonton disuguhi konflik berupa larangan memutar film di Graha Adiguna, pendopo di komplek kantor Bupati Purbalingga, oleh Satpol PP. Dari peristiwa itulah lahirlah satu film dokumenter pendek (durasi 30 menit) karya Bowo Leksono yang berjudul Bioskop Kita Lagi Sedih.

Setelah konflik reda dan cerita mulai mengalir tenang seiring perjuangan CLC yang tetap konsisten memutar film-film karya pemuda lokal, penonton kembali dikejutkan oleh rangkaian adegan yang menegangkan pada menit-menit terakhir. Yakni, saat sejumlah aral merintangi rencana CLC memutar film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta karya Rahung Nasution pada 27 Mei 2016.  

Dengan kamera yang ditenteng dalam kondisi merekam, Yuda mengikuti Bowo dan rekan-rekannya saat memenuhi undangan dari kepolisian dan militer setempat yang meminta keterangan hal ihwal film tersebut. “Sebenarnya saya sudah menyiapkan kamera tersembunyi, tapi risikonya besar. Kalau ketahuan justru bahaya,” kata Yuda membeberkan siasatnya agar tetap dapat mendokumentasikan momen-momen penting.

Puncak konfliknya terjadi saat lokasi pemutaran film itu, aula Hotel Kencana Purbalingga, digeruduk sekelompok orang yang mengusung nama Aliansi Pemuda Cinta Pancasila. Meski proses negosiasinya berlangsung alot dan tegang, seratusan penonton di Teater Arena TBJT malam itu tak jarang terpingkal karena jawaban-jawaban konyol dari pimpinan kelompok tersebut saat Bowo menanyakan alasan mereka melarang pemutaran film yang berlatar belakang tragedi 1965 itu.


“Setelah Balada Bala Sinema dirilis, pimpinan kelompok itu meneror saya dalam waktu cukup lama. Entah dari mana dia dapat nomor telepon saya. Dia bilang malu karena jadi bahan tertawaan. Padahal faktanya saat itu memang demikian,” kata Yuda sambil tertawa.

Damar mengaku tidak menyangka Balada Bala Sinema hingga kini masih diputar di bioskop-bioskop alternatif dan penontonnya selalu ramai. “Film ini juga bertujuan memberikan gambaran bahwa dukungan terhadap komunitas-komunitas film tidak cukup hanya sekadar menyukai unggahan mereka di media sosial. Tapi wujudkanlah dukungan itu dalam karya,” kata sineas yang bekerja di sejumlah organisasi dan festival film nasional bergengsi itu.

Yuda menambahkan, proses produksi Balada Bala Sinema sangat terbantu oleh tingginya kesadaran anggota CLC Purbalingga dalam membuat dokumentasi. Sebab, dalam kurun lebih dari setahun itu, Yuda musti mondar-mandir Purbalingga - Solo untuk mengerjakan Nyanyian Akar Rumput, film dokumenter tentang Fajar Merah (anak bungsu Wiji Thukul, penyair asal Kota Solo) dan band Merah Bercerita.

“Kalau sudah kehabisan ide di Purbalingga, saya ke Solo atau pulang dulu ke Jakarta,” kata Yuda. Untuk Balada Bala Sinema, dia berujar, total footage (video mentah) yang terkumpul mencapai empat terabyte, separuhnya sumbangan dari CLC Purbalingga.

DINDA LEO LISTY


Nb: Reportase ini dimuat di Koran Tempo edisi Selasa, 14 Mei 2019


Read more
Minggu, 13 Januari 2019
no image

Penulis: Alissa Wahid

Disrupsi menjadi kata yang sedang happening beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya sekadar fenomena, disrupsi telah mengubah kehidupan manusia secara drastis. Ia 'mengganggu' praktik bisnis, penyebaran pengetahuan, interaksi antarmanusia, juga mengubah keseharian. Tanpa harus keluar rumah, kita bisa berbelanja. Bahkan tanpa harus diterima di Universitas Harvard, AS, kita bisa belajar dari para profesor di universitas tersebut.

Pemanfaatan informasi dan kecanggihan teknologi ini juga membawa perubahan pada karakter masyarakat. Sharing economy membawa perubahan hubungan ekonomi antara buruh dan majikan menjadi partner dan berujung pada penguatan egalitarianisme. Sikap proaktif dan disiplin diri menguat seiring dengan meningkatnya peluang kerja sama tersebut.

Kendali proses yang tadinya berada pada penyedia layanan dan produk pun bergeser pada kendali di tangan penerima manfaat (konsumen, klien). Beberapa perusahaan mampu menyesuaikan dirinya dan dapat memanfaatkan era ini dengan baik. Beberapa perusahaan lain tutup usaha karena tak mampu keluar dari praktik business as usual.

Dalam politik dan kewargaan, kita melihat wujud disrupsi pada partisipasi warga. Media sosial dan petisi online menjadi kanal penyampaian aspirasi yang mujarab untuk memengaruhi kebijakan publik. Intinya, di era disrupsi, hubungan antara warga dan pemimpin menjadi semakin egaliter, tidak lagi selayak atasan-bawahan.

Para politisi dan pejabat publik akhirnya akan berhadapan dengan realitas baru: mereka dituntut untuk menunjukkan akuntabilitas antara perilaku di belakang layar dan di bawah lampu sorot publik. Politisi dan pejabat publik yang tak peka terhadap fenomena ini tak akan mampu mempertahankan integritasnya di mata publik sebagaimana kita lihat contohnya beberapa waktu terakhir. 

Demikian juga dalam kehidupan beragama. Tak dapat dimungkiri, perubahan kebiasaan akibat teknologi informasi turut membawa pengaruh cukup besar. Secara tradisional, otoritas keagamaan dibangun di atas kepemimpinan struktural yang sentralistik pada sebuah komunitas geografis.

Para pemuka agama pada umumnya adalah mereka yang memiliki kedudukan struktural pada organisasi berbasis agama. Mereka yang memiliki standar keilmuan yang diakui dari berbagai lembaga pendidikan agama juga disebut sebagai pemuka agama. Selain itu, para pemuka agama adalah mereka yang menggerakkan dan menjadi sumbu kehidupan agama di sebuah lokal masyarakat, sebagaimana kita mengenal kiai-nyai di berbagau pelosok Nusantara.

Namun, dalam konteks era disrupsi, otoritas keagamaan pun mendapatkan tantangan. Karakter umat yang lebih proaktif dalam mencari informasi membuat umat menentukan sendiri konten maupun pemuka agama yang dipilihnya. Dinamika hubungan yang lebih egaliter antara umat dan pemuka agama di internet membuat kepemimpinan tak lagi bertumpu pada struktur organisasi keagamaan.

Pemuka agama tak dapat lagi memaksa umatnya untuk mempelajari ajaran agama secara bertahap sesuai dengan standar tradisional. Pun, pemuka agama tak dapat lagi memaksa umat untuk menghormatinya sebagaimana umat zaman old menghormati otoritas strukturalnya. Adagium lama respect is earned menemukan esensinya justru pada kehidupan beragama di era disrupsi.

Dalam aspek konten informasi, ajaran agama yang paling banyak tersedia, terutama melalui kanal-kanal media baru, memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan pengikut. Pada aspek penyedia informasi, kelompok dan pemuka agama yang secara aktif dan konsisten menyebarkan ajarannya dengan kepekaan terhadap karakter umat zaman now juga akan memiliki pengaruh lebih besar. KH Nadirsyah Hosen yang berada nun jauh di Australia memiliki pengaruh cukup besar karena kehadirannya di media sosial.

Para fenomenolog beberapa dekade lalu memprediksikan bahwa globalisasi akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat kepada agama. Namun, kebalikannya justru terjadi semangat religiusitas masyarakat meningkat di berbagai sudut dunia.

Sayangnya, data riset di Indonesia membuktikan pergeseran nilai yang cukup pesat dalam hal kehidupan beragama, ke arah yang tidak kita harapkan: eksklusivisme dan ekstrimisme agama.

Ajaran agama yang menggelorakan semangat superioritas atas kelompok agama lain serta membangun tembok-tembok antara umat dan liyan tampak makin menonjol.

Ini menunjukkan bahwa banyak pemuka agama gagap terhadap disrupsi. Mereka masih bertahan pada keyakinan dan proses bisnis lama, dan tidak segera menyelaraskan diri terhadap perkembangan mutakhir ini. Karena itu, ajaran agama yang selama ini menghidupi Nusantara yang ramah terhadap keberagaman dan semangat kebangsaan pun meluntur digerus semangat zaman yang eksklusif.

Kritik para milenial di diskusi akhir 2018 lalu adalah bahwa para senior dan pemuka agamanya terlalu sibuk dengan gagasan besar tentang agama yang merahmati semesta, tetapi kurang hadir di ruang-ruang yang paling dibutuhkan dan dengan gaya yang sesuai dengan umat zaman now. 

Rasanya, sudah saatnya para pemuka agama mendengarkan kritik ini. Bila tidak, siapkah para pemuka agama untuk mengalami nasib seperti bisnis yang tergulung oleh era disrupsi ini?

Read more

Recent