![]() |
Senja di Balumbang Siblarak |
Berawal dari Umbul Kemanten yang tersembunyi di tapal batas, Sidowayah tumbuh menjadi salah satu desa tercantik di Kabupaten Klaten yang memiliki banyak obyek wisata. Berani berinovasi adalah kuncinya. Tahun ini, Desa Sidowayah akan meluncurkan obyek wisata baru dengan beragam wahana di dalamnya. Balumbang Siblarak namanya.
Senja
di pengujung 2018. Dengan rambut masih basah dan bertelanjang dada, sejumlah
anak berkejaran di tepi kolam berdinding batu yang airnya berkilauan oleh
cahaya keemasan dari matahari nan jatuh perlahan di balik Gunung Merapi dan
Merbabu.
“Tak
harus ke pantai untuk menikmati keindahan panorama kala matahari tenggelam,”
kata Wisnu Nugroho, salah satu pengunjung Balumbang Siblarak. Ditemani segelas
kopi dari warung angkringan di sisi timur balumbang,
fotografer profesional asal Kecamatan Delanggu, Klaten, itu sesekali
mengarahkan kameranya untuk mengabadikan momen.
Balumbang
Siblarak adalah obyek wisata baru di Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. Dibangun pada
2017 dengan anggaran sekitar Rp 645 juta, kawasan wisata seluas 2,5 hektare
dengan wahana utama berupa balumbang
atau kolam buatan itu dicanangkan sebagai destinasi alternatif dari Umbul
Kemanten. Balumbang Siblarak berada di timur Umbul Kemanten, sekitar satu
kilometer.
Berkedalaman
sekitar 1,5 meter - 1,8 meter, air di Balumbang Siblarak cukup jernih dan segar
karena disalurkan langsung menggunakan jaringan pipa dari dua sumber mata air
alami, yaitu Umbul Kemanten dan Umbul Doyo. Meski belum diresmikan, selama dua
bulan perdana sejak dibuka untuk umum, Balumbang Siblarak rata-rata bisa
dikunjungi sekitar 60 - 100 orang per hari.
Direktur
Utama BUMDes Sinergi Desa Sidowayah, Imron, mengatakan Balumbang Siblarak saat
ini masih dalam proses pengembangan. Selain menyiapkan sarana dan prasarana untuk
melayani kebutuhan dasar wisata, BUMDes Sinergi juga akan menambah sejumlah
wahana baru di sekeliling balumbang.
“Tahun
ini kami berencana memasang kincir air di balumbang
untuk pembangkit listrik. Anggarannya sekitar Rp 50 juta,” kata Imron. Listrik
yang dihasilkan dari kincir air itu untuk memenuhi kebutuhan energi dari
sejumlah wahana di Balumbang Siblarak.
“Salah
satunya untuk kafe yang akan kami bangun di
tengah sawah. Kalau bisa bikin listrik sendiri kan lebih hemat, bisa
buka sampai malam,” kata Imron. Dia berujar, keberadaan kincir air tersebut juga
bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berswafoto.
Saat
ini Balumbang Siblarak telah dilengkapi wahana yang memompa adrenalin, yaitu flying byur. Dengan membayar tiket Rp 10.000
selama masa promosi, pengunjung bisa merasakan sensasi meluncur pada kabel baja
sepanjang 80 meter dari ketinggian 8 meter dan mendarat di kolam. “Kami juga
akan membuat kolam susun dan memasang high
rope (permainan tali di atas ketinggian),” ujar Imron.
Bagi
yang gemar bertualang, Balumbang Siblarak juga akan menyewakan sejumlah ATV (kendaraan
segala medan beroda empat) dan motor trail untuk menyusuri kawasan Balumbang
Siblarak. Imron menambahkan, Balumbang Siblarak baru diresmikan setelah
fasilitas dan wahananya sudah lengkap.
“Harga
tiket masuk Balumbang Siblarak hanya Rp 5.000, itu sudah bebas bermain di
kolam. Sedangkan tarif sewa ATV rencananya sekitar Rp 15.000 per 15 menit,”
kata Imron. Karena belum diresmikan, Balumbang Siblarak saat ini terbilang
masih gratis. Tiap pengunjung hanya dipungut sumbangan Rp 3.000 untuk jasa
parkir dan kebersihan.
0 komentar