google-site-verification: google81f2ee356101f507.html Ngaji Gus Baha
Open top menu
Minggu, 24 Februari 2019
54 Tahun She Just Satisfies, Single Solo Jimmy Page

foto dari pipergatesdesign.blogspot.com

Hari ini, 26 Februari, adalah hari yang bersejarah dalam dunia musik rock; hari lahirnya sejumlah album dan single yang sudah begitu akrab di telinga kita. Dilansir dari on-this-day.com, sebut saja di antaranya: Hey Jude/The Beatles Again (1970), album The Beatles yang dirilis di AS; The Great Rock N’ Roll Swindle (1979), album kedua The Sex Pistols; Under Rug Swept (2002), album ketiga Alanis Morissete; dan yang terbaru ada Just Give Me a Reason, single dari Pink featuring Nate Ruess.
Sebenarnya ada satu lagi single bersejarah yang juga lahir pada 26 Februari 1965:  She Just Satisfies. Anda pernah dengar? Ya, She Just Satisfies adalah single solo perdana dari James Patrick Pages alias Jimmy Page; gitaris band rock legendaris asal Inggris Led Zeppelin. Karena kurang mendapat perhatian dari publik ketika diluncurkan, single yang dikemas dalam format piringan hitam atau vinyl mono 7” itu seperti hilang di telan bumi – meski sekarang menjadi buruan kolektor.
Bahkan, dalam buku Whole Lotta Led Zeppelin (Jon Bream, 2015), Jimmy Page juga terkesan ogah-ogahan ketika menjawab pertanyaan dari Creem Magazine ihwal She Just Satisfies. “Tidak ada yang bisa dikatakan tentang rekaman itu kecuali sangat menjengkelkan pada masa itu. Saya memainkan semua instrumen kecuali drum dan bernyanyi juga, yang cukup, uh … unik. She Just Satisfies, begitulah sebutannya. Itu lebih baik dilupakan,” kata Jimmy Page pada 1974.
Dikutip dari dangerousmind.net, She Just Satisfies diproduksi oleh Jimmy Page sendiri dan dirilis di bawah label Fontana Records, Inggris. Single tersebut berisi dua lagu, yaitu She Just Satisfies dan Keep Moving. Lagu pertama, ditulis Jimmy Page bersama Barry Mason; penulis lagu dari Lanchasire Inggris yang terkemuka pada tahun 60-an. Adapun Keep Moving ditulis Page bersama pacarnya dari Amerika, Jackie DeShannon; perempuan pertama yang menjadi penyanyi sekaligus penulis lagu di era rock ‘n’ roll. DeShannon turut membantu sebagai backing vocal di lagu pertama.
Meski kemunculan She Just Satisfies sama sekali tidak mengusik grafik tangga lagu pada masanya, Paul Sexton lewat artikelnya di udiscovermusic.com menyebut single itu sebagai "batu loncatan nyata dari keseharian Jimmy Page sebagai gitaris cabutan dan masa-masanya bersama The Yardbird yang mengawali terbentuknya Led Zeppelin".
Kini, She Just Satisfies sudah genap berumur 54 tahun. Kendati demikian, kedua lagunya masih sangat relevan untuk kuping zaman sekarang. Penasaran seperti apa lagu She Just Satisfies, anda bisa memutarnya secara gratis di youtube. Tapi jangan harap anda akan menemukan permainan lead guitar Jimmy Page yang begitu liar seperti dalam lagu-lagu Led Zeppelin. Dalam lagu berdurasi dua menit itu, Jimy Page justru mengandalkan harmonika sebagai melodi utamanya. 
Read more
Marshall From Detroit, Semobil Dengan Eminem Menyusuri Kota Asalnya

poster Marshall From Detroit dari reddit.com


Pernah membayangkan bagaimana rasanya semobil dengan artis idola anda, diantar berkeliling ke kota asalnya sambil mendengarkan dia menuturkan kisah masa lalunya? Bagi para penggemar Eminem, ayangan semacam itu bukan lagi mimpi di siang bolong. 

Setelah cuplikannya dirilis di youtube pada Januari lalu, film dokumenter Eminem yang berjudul Marshall From Detroit kini bisa ditonton gratis di Oculus Go, Oculus Rift, dan Samsung Gear VR. Film berformat 360 derajat yang diproduksi Felix & Paul Studios ini akan mengajak anda mengeksplor kota Detroit dari sudut pandang Eminem; membandingkan masa-masa sulit yang pernah dia alami dengan versi terkini kota itu. 

Meski hanya berdurasi 21 menit, film berteknologi virtual reality (VR) ini menyuguhkan pengalaman yang
jauh lebih intim dibandingkan film drama biografi Eminem, 8 Mile (2002). Dengan perangkat pendukung VR, dilansir dari vrscout.com, film besutan sutradara Caleb Slain ini mengajak anda turut dalam mobil yang membawa Marshall Mathers -nama asli Eminem- menyusuri jalanan Detroit, Michigan, AS, pada suatu malam di musim dingin. 

Di mobil itu anda bakal duduk berhadapan dengan Eminem yang sedang diwawancarai Sway Calloway. DJ radio sekaligus rapper teman lama Eminem itu duduk tepat di sebelah kiri anda. Caleb Slain mengatakan filmnya bertujuan memperluas keintiman yang ditawarkan teknologi VR - di luar perjalanan sekali seumur hidup dengan Marshall dan memperkenalkan versi Detroit yang lebih mistik. "Kami ingin mengambil 'kenyataan' dari VR dan mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih tidak nyata, tapi juga jujur," kata Caleb Slain kepada variety.com. 

Dalam buku Eminem Not a Mama's Boy (2002), Chuck Weiner menuturkan Marshall dibesarkan di lingkungan kumuh nan keras di Detroit oleh ibunya yang hanya mengandalkan tunjangan dari pemerintah. Tumbuh dengan berbagai kemalangan yang merundungnya, Marshall pun bermimpi untuk lekas meninggalkan Detroit. Namun, mimpi itu tak kunjung terwujud. Berkat pamannya, di kota berjuluk Motor City itulah Marshall mulai mengenal rap dan hip-hop; dan menjadikannya sebagai tempat pelarian.

Pertama kali menjadi rapper, seperti digambarkan dalam 8 Mile, Marshall mendapat perlawanan keras dari kalangan mayoritas kulit hitam. Tapi dia tetap gigih hingga berhasil merilis album perdananya, Infinite (1996). Untuk mengenang masa awal perjuangan itu, dalam Marshall From Detroit, rap Marshall diputar sekali saat kilas balik ke adegan rap battle-nya yang direkam pertama kali di Detroit pada 1996.

Saat mengarungi jalanan Detroit bersama Sway, Eminem mengungkap upayanya mengejar kualitas Marshall Mathers LP (MLPP); salah satu album yang sangat sukses di awal karirnya. Sebab, penggemarnya lebih menyukai "Marshall yang dulu" dan percaya pada kemarahan yang disalurkan ke dalam album-album lamanya seperti MLPP.  Meski berusaha
mengembalikan suara khas dan tingkat gairahnya pada era 90'an, Eminem mengakui kemarahan yang dia rasakan kini berbeda; bukan lagi sebagai anak yang tumbuh di lingkungan yang kurang ideal. 

Namun, Eminem mengklaim masih memiliki semangat yang sama untuk menyusun bar dan menulis lirik yang merangsang pemikiran menantang konvensi serta norma musik modern ke dalam komposisi yang emosional. Bagaimana pun, selama lebih dari 23 tahun terakhir, Eminem telah mengubah hip-hop dengan cara yang eksplosif. Meningkatnya kesuksesan Eminem telah memberikan Detroit suara dan reputasi yang berbeda. Dan, bagi Eminem, Detroit akan selalu menjadi rumahnya.

Selain menyimak wawancara yang mengupas sisi intim Eminem yang jarang diketahui publik, Marshall From Detroit juga membawa penontonnya mengunjungi berbagai sketsa kota Detroit; dari jalanan tertutup salju sampai berdiri di tengah aula gedung pertunjukan besar yang sudah terbengkalai; tempat di mana battle-rap Marshall yang bersejarah kemungkinan berlangsung pada 23 tahun lalu.

Read more
Selasa, 15 Januari 2019
no image

DINDING

Kalau saja aku bisa mencapai
Rumah induk ibu maut
Oh, putriku
Aku akan membuat obor rumput panjang ...
Aku akan menghancurkan semuanya dengan sangat ...

Lagu pemakaman tradisional Acholi, Kota Thokoza, Afrika Selatan, 18 April 1994.


"Bukan sebuah foto," gumamku ketika melihat dari jendela bidik kamera pada tentara yang menembak secara metodis ke asrama. Aku berbalik ke barisan tentara yang ketakutan, ogah-ogahan, dan kurang terlatih yang berlindung di sepanjang tembok di sebelahku. Mata mereka belingsatan di bawah lingkar helm baja. Aku ingin memotret ketakutan itu. Menit berikutnya, sebuah pukulan menghantamku - berat, seperti palu - di dada. Aku melewatkan sebuah sub-momen, hentakan dari hidupku, dan kemudian aku menemukan diriku di tanah, terjerat di kaki fotografer lain yang bekerja di sampingku. Rasa sakit menyinari dada kiriku dan menyebar ke seluruh tubuh. Itu jauh melampaui titik yang aku bayangkan sebagai puncak rasa sakit. ‘Persetan! Aku tertembak, aku tertembak! Keparat! Keparat! Persetan! '

Saat tembakan otomatis terus meletus dari sepanjang dinding, Joao dan Jim mati-matian menarik rompi kamera yang kukenakan agar lebih dekat ke dinding, mencari perlindungan di samping tentara dan keluar dari barisan tembakan mereka. Kemudian sebuah suara menyedihkan menerobos hiruk pikuk itu: "Ken O tertembak!" Aku berjuang memutar kepala melalui tali-tali kamera yang kusut dan mengikat leherku. Beberapa meter di sebelah kanan, aku bisa melihat sepasang kaki kurus panjang yang tidak salah lagi milik Ken yang menonjol dari rumput liar yang tumbuh di dinding beton. Kaki itu tidak bergerak dan pada sudut yang mustahil satu sama lain. Jim berlari ke tempat Gary mencengkeram Ken, berusaha menemukan tanda kehidupan. Retakan sporadis dan derak tembakan otomatis berkecepatan tinggi bergema di udara di sekitar kerumunan wartawan dan tentara yang mencoba merapatkan diri mereka ke tembok.

Darah merembes dari lubang yang menganga di kausku. Aku mengapitkan tangan di atas lubang itu untuk menghentikan pendarahan. Aku membayangkan luka tempat keluarnya peluru sebagai lubang mematikan yang menganga di punggungku. "Cari luka keluarnya (peluru)," kataku pada Joao. Dia mengabaikanku. "Kamu akan baik-baik saja," katanya. Aku paham itu pasti parah jika dia tidak mau melihatnya, dan seolah-olah ini semua terjadi dalam film yang suram, aku meminta dia menyampaikan pesan kepada pacarku. "Katakan pada Heidi, aku minta maaf ... aku mencintainya," kataku. "Katakan sendiri," balasnya.

Tiba-tiba sebuah sensasi ketenangan total menyapuku. Ini dia. Aku telah mendapatkan hakku. Aku telah menebus puluhan close calls (situasi yang buruk, tidak menyenangkan, atau berbahaya yang hampir terjadi, tetapi berhasil menghindarinya) yang selalu membuat orang lain terluka atau mati, sementara aku muncul dari adegan kekacauan tanpa cedera, dengan foto-foto di tangan, setelah melakukan kejahatan menjadi voyeur yang beruntung.

voyeur: seseorang yang mendapatkan kenikmatan seksual dari menonton orang lain ketika mereka telanjang atau terlibat dalam aktivitas seksual.

Jim kembali, berjongkok di bawah tembakan dan bergumam pelan di telingaku, 'Ken sudah pergi (mati), tetapi kamu akan baik-baik saja.' Joao mendengar dan berdiri bergegas ke arah Ken, tetapi yang lain sudah membantunya. Dia mengangkat kameranya. "Ken ingin melihatnya nanti," katanya pada dirinya sendiri. Dia kesal karena rambut Ken menutupi wajah, merusak gambar. Joao mengambil foto kami berdua - dua teman terdekatnya - aku tergeletak di beton yang retak memegangi dadaku; sedangkan Ken diayun ke belakang sebuah kendaraan lapis baja oleh Gary dan seorang prajurit, kepalanya terkulai bebas seperti boneka kain dan kameranya tergantung tidak berguna dari lehernya. Kemudian giliranku diangkut ke dalam mobil lapis baja; Jim memegang pundakku dan Joao, tetapi saya besar, dimanjakan Heidi membuat beratku bertambah hingga berkilo- kilo. "Kamu terlalu gemuk, Bung!" Joao bercanda. "Aku bisa berjalan," aku memprotes, mencoba tertawa, tapi anehnya justru jadi geram. Aku ingin mengingatkan mereka akan bobot kamera-kamera.

Setelah empat tahun mengamati kekerasan itu, peluru akhirnya menyusul kami. Bang-bang* itu baik untuk kami, sampai sekarang.

*bang-bang: memiliki efek yang tiba-tiba, kuat, atau menarik perhatian / dieksekusi atau terjadi dengan sangat cepat / ditandai dengan aksi kekerasan atau langkah cepat.

Sebelumnya pagi itu kami telah menggarap jalan-jalan belakang dan gang-gang yang hancur di kota Thokoza yang tak berpenghuni - Ken Oosterbroek, Kevin Carter, Joao dan saya - telah menjadi akrab dengan bertahun-tahun dalam memburu konfrontasi antara polisi, tentara, prajurit Zulu modern dan para pemuda penghasil Kalashnikov ketika apartheid berakhir.

Kevin tidak bersama kami saat penembakan terjadi. Dia telah meninggalkan Thokoza untuk berbicara dengan seorang jurnalis lokal tentang Hadiah Pulitzer yang telah dia menangkan karena fotonya yang mengejutkan tentang seorang anak yang kelaparan yang diintai oleh burung pemakan bangkai di Sudan. Dia bimbang untuk berangkat. Joao menyarankannya untuk tinggal, bahwa meski ada jeda, peristiwa itu pasti akan dimasak lagi. Tapi Kevin menikmati statusnya yang baru sebagai selebriti dan tetap pergi.

Saat makan siang steak di Johannesburg, Kevin menceritakan banyak kisah pelariannya yang genting. Setelah hidangan penutup, ia mengatakan kepada wartawan bahwa pagi itu ada banyak "bang-bang" di Thokoza, dan ia harus kembali. Ketika mengemudi kembali ke kota, sekitar 16 kilometer dari Johannesburg, ia mendengar laporan berita di radio bahwa Ken dan saya tertembak, dan Ken sudah mati. Dia mengebut ke rumah sakit lokal tempat kami dibawa. Kevin hampir tidak pernah mengenakan pelindung tubuh, tidak satupun dari kami yang mengenakannya, bahkan Joao dengan tegas menolaknya. Tetapi di pintu masuk ke kota, sebelum mencapai rumah sakit, Kevin menaruh rompi anti peluru di atas kepalanya. Sekaligus, dia merasa takut.

Lelaki itu tidak lagi 'tak tersentuh', dan, sebelum noda darah memudar dari beton di samping dinding, salah satu dari kami akan mati. 
Read more
no image

Di balik riuh dan sibuknya Pasar Gede Hardjonegoro Kota Surakarta, di tengah himpitan toko-toko yang memanjang di tepi selatan Jalan RE Martadinata, menyembul sebuah bangunan klasik berarsitektur Tionghoa yang didominasi warna merah menyala. Klenteng Tien Kok Sie namanya.

Dari luar, klenteng yang juga dikenal dengan nama Vihara Avalokitesvara itu tidak jauh berbeda dengan tempat ibadah Tridharma (Taoisme, Khonghucu, Buddha) pada umumnya. Namun, begitu menapakkan kaki ke dalamnya, klenteng itu tak ubahnya lorong waktu yang siap mengantar siapa saja untuk kembali mengenang masa awal berdirinya Kota Surakarta.

Menurut Humas Klenteng Tien Kok Sie, Chandra Halim, klenteng yang bertuan rumah Kwan She Im Poo Sat ini usianya tidak terpaut jauh dengan Keraton Surakarta Hadiningrat yang dibangun pada 1744 - 1745. Sayangnya, hingga kini belum ditemukan prasasti ataupun dokumen resmi yang mencatat secara pasti sejak kapan klenteng Tien Kok Sie ini berdiri.

“Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta maupun peneliti dari Jepang yang bertandang ke sini beberapa waktu lalu juga kesulitan mencari kepastian tanggal lahir klenteng ini,” kata Halim saat saya bertandang ke Klenteng Tien Kok Sie pada Senin, 17 Oktober 2016.

Namun, dari artikel yang pernah dia baca, alumnus Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Shanata Dharma Yogyakarta itu meyakini pada 1780 Klenteng Tien Kok Sie sudah eksis sebagai tempat peribadatan sekaligus tempat interaksi sosial masyarakat Tionghoa.

*

Keberadaan Klenteng Tien Kok Sie tidak dapat dipisahkan dari peristiwa sejarah yang dikenal dengan sebutan Geger Pecinan, pertempuran antara etnis Tionghoa melawan kongsi dagang Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie / VOC) di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1740. Geger Pecinan atau juga disebut Tragedi Angke itu dipicu oleh politik pengurangan etnis Tionghoa oleh VOC.

Karena terdesak dalam peperangan melawan VOC, masyarakat Tionghoa di Batavia memutuskan berpindah ke Jawa Tengah, bergabung dengan komunitasnya di wilayah Kasunanan Kartasura. “Komunitas masyarakat Tionghoa di Kartasura itu awalnya dari Simongan (Semarang), Tuban, dan sejumlah daerah lain dari Jawa Timur,” kata Halim.

Oleh raja Kasunanan Kartasura, Pakubuwono (PB) II, komunitas Tionghoa dimanfaatkan sebagai tambahan kekuatan untuk melawan VOC. Tapi setelah melihat kekuatan VOC jauh lebih besar, dukungan Pakubuwono II pun berbalik arah.

Menyitir tulisan Peter Carey dalam buku Geger Pecinan, Halim mengatakan, sikap PB II tersebut memicu kemarahan para pejuang anti VOC, baik dari masyarakat Tionghoa maupun pribumi. Geger Pecinan kedua pun tak terelakkan hingga berujung pada hancurnya Keraton Kartasura.

“Setelah PB II membangun keraton baru dengan nama Surakarta di Desa Sala, masyarakat Tionghoa juga meninggalkan Kartasura dan mulai bermukim di utara Pasar Gede,” kata Halim. Klenteng Tien Kok Sie yang semula berada di dekat keraton Kartasura juga turut dibongkar dan dibangun kembali tepat di utara Sungai Pepe, Pasar Gede.

Halim mengaku pernah melakukan penelusuran di Kartasura untuk melacak jejak klenteng yang menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Tionghoa melawan VOC itu. “Tapi sudah tidak ada bekas atau peninggalan sama sekali,” kata Halim.
Sejak dibangun di utara Sungai Pepe, Halim mengklaim belum pernah terjadi pemugaran dalam skala besar terhadap Klenteng Tien Kok Sie.

“Sejak pertama dibangun sampai sekarang tidak pernah ada peristiwa yang menyakitkan pada klenteng ini, baik pada masa Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965) hingga kerusuhan 1998. Klenteng ini aman-aman saja,” kata Halim.

Halim meyakini hampir semua struktur bangunan Klenteng Tien Kok Sie masih asli: mulai dari dua arca singa penolak bala (Ciok Say) yang berjaga di luar gerbang, lukisan dewa penjaga pintu di dua arca naga yang mengapit bola mustika di puncak atap depannya, hingga pilar-pilar kayu jati yang menyangga kuda-kuda berhiaskan ukiran naga.

“Paling hanya catnya saja yang diperbarui,” kata Halim. Agar mendekati warna asli, cat merah hati yang melapisi pilar-pilar kayu dan sejumlah ornamen di klenteng ini khusus didatangkan dari Tiongkok. Pada 1997, Kepala Daerah Tingkat II Surakarta menetapkan Klenteng Tien Kok Sie sebagai cagar budaya.

Namun, Halim juga tidak memungkiri adanya benda peninggalan sejarah di dalam klenteng yang telah raib. Salah satunya lonceng atau genta kuno yang dulu digantung di ruang depan sisi barat. Kini, lonceng tersebut digantikan dengan yang baru dan dipasang di tempat yang sama.
*
Tidak hanya merekam sejarah perpindahan keraton Surakarta dari Kartasura, Klenteng Tien Kok Sie juga menyimpan kisah kejayaan Bengawan Solo yang menjadi jalur perdagangan utama di Pulau Jawa pada kurun abad 18 - 19.

Keberadaan altar Thian Siang Sing Bo atau dewi laut adalah petunjuknya. Selain patung Kwan She Im Poo Sat, Halim berujar, Thian Siang Sing Bo adalah patung “wajib” yang dibawa imigran dari Tiongkok saat berlayar mengarungi lautan.

“Meski jauh dari laut, masyarakat Tionghoa di Surakarta pada zaman dulu juga berdoa kepada Thian Siang Sing Bo demi keselamatan selama berlayar di Bengawan Solo,” ujar Halim. Pada abad 18 - 19, Halim mengatakan, Sungai Pepe yang tepat di belakang Klenteng Tien Kok Sie adalah gerbang utama menuju Bengawan Solo yang menjadi jalur utama penghubung Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selain dari sisi sejarah, masih ada satu hal menarik lagi di Klenteng Tien Kok Sie. “Tien Kok Sie ini satu-satunya klenteng di Solo Raya yang bercorak Buddhis dari mazhab Zen,” kata Halim. Corak Budhis mazhab Zen itu bisa dikenali dari keberadaan patung Kwan She Im Poo Sat yang letaknya berjajar dengan San Po Fo di belakangnya dan Wei Tuo Poo Sat (pelindung dharma) di depannya.

Petunjuk lain dari corak Buddhis mazhab Zen itu adalah keberadaan sebuah papan kayu bertuliskan huruf-huruf mandarin warna emas di altar Fu Lu Sho, di ujung timur ruang belakang klenteng.  “Papan itu menuliskan nama-nama para leluhur aliran Zen yang pernah menghadiri suatu perayaan di klenteng ini. Papan kayu itu sempat membuat peneliti dari Jepang berdecak kagum,” kata Halim.

Meski bercorak Buddhis Zen, klenteng Tien Kok Sie terbuka bagi seluruh umat Tridharma maupun masyarakat umum yang tertarik mempelajari sejarah dan budaya Tionghoa. “Di sini juga ada sembahyang umat Buddha tiap hari upostaha atau ceit (bulan mati/tilem) dan capgo (bulan purnama). Bacaannya seperti sembahyang biasa,” kata Halim.

Read more
no image

Oleh: Greg Marinovich & Joao Silva

Kata Pengantar

Kami menghadapi sejumlah perjuangan dalam menulis buku ini. Kenangan yang kabur, keengganan kami mengunjungi kembali masa-masa yang sangat sulit, dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kompleksitas yang melekat dalam menceritakan kisah empat orang yang, meskipun terikat bersama secara profesional, memiliki kehidupan dan pengalaman yang sangat berbeda. Pada akhirnya, kami memutuskan bahwa kisah itu paling baik diceritakan dalam satu suara, Greg. Seandainya kami tidak berkolaborasi, buku ini tidak akan terwujud. Satu orang tidak akan cukup untuk dapat menyatukan buku seperti ini, dan tentu saja, penelitian serta penulisan buku ini membantu kami memahami lebih banyak tentang teman-teman kami, diri kami sendiri, dan zaman. Kita tidak bisa berharap untuk mengetahui apa yang terjadi dalam benak bahkan orang yang paling dekat sekalipun, tetapi kita telah melakukan upaya yang jujur ​​untuk menembus kabut yang mengelilingi teman-teman kita dan diri kita sendiri pada masa kesakitan itu.

Kami tidak pernah berniat untuk menulis buku tentang periode itu. Dan ketika kami akhirnya mulai menulisnya pada 1997, itu lebih merupakan sebuah perjalanan penemuan daripada upaya untuk mencatat apa yang kami anggap sebagai kebenaran yang sudah mapan. Kami harus menemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang kami lakukan dan bagaimana kami menanganinya jauh lebih kompleks daripada cara kami mengelompokkan isu-isu di kepala kami. Ada banyak kemarahan dan kepahitan dari masa-masa itu yang tidak dapat dibuang - itu adalah bagian dari kita, dan dari negara ini. Tetapi ada juga jumlah pengampunan, rahmat, dan kemanusiaan yang luar biasa yang muncul. Perpaduan emosi itu seperti Afrika Selatan yang kita kenal.

Bang-Bang Club dari jurnalis foto Afrika Selatan banyak ditulis dalam periode kekerasan yang menandai berakhirnya rezim apartheid di Afrika Selatan. Nama itu memberi gambaran mental tentang sekelompok pria yang hidup susah payah yang bekerja, bermain, dan nongkrong bersama hampir sepanjang waktu. Mari kita luruskan: tidak pernah ada makhluk seperti itu, tidak pernah ada klub, dan tidak pernah ada hanya kami berempat dalam semacam kultus perak halida - lusinan wartawan meliput kekerasan selama periode pembebasan Nelson Mandela dari penjara ke pemilu pertama yang sepenuhnya demokratis.

Kami menemukan bahwa salah satu tautan terkuat di antara kami adalah pertanyaan tentang moralitas dari apa yang kami lakukan: kapan Anda menekan tombol rana dan kapan Anda berhenti menjadi fotografer? Kami menemukan bahwa kamera tidak pernah menjadi filter yang melindungi kami dari yang terburuk dari apa yang kami saksikan dan yang kami potret. Justru sebaliknya - sepertinya foto-foto itu telah tercetak ke dalam pikiran kami.

Kami memiliki pertemanan yang mengaitkan kami berempat, tapi itu bukan semacam kelompok atau pertemanan timbal-balik, melainkan ikatan individu yang terkadang tumpang tindih. Tetapi tentu saja ada penyebut yang umum - kami semua meliput peristiwa-peristiwa yang menghancurkan pada tahun 90-an dengan rasa sejarah dan tujuan, dan kami dapat melihat bagaimana dari mata luar, bahwa sebuah nama yang mudah dianggap sebagai fakta.

Kami telah menggunakan banyak istilah yang khas Afrika Selatan, beberapa dalam versi bahasa Inggris dan lainnya dalam salah satu dari sembilan bahasa Afrika dan Afrikaans, serta bahasa gaul kota bernama Tsotsitaal. Kami menjelaskan beberapa di dalam teks, dan beberapa sudah jelas, tapi ada glosarium di bagian belakang buku yang akan memberikan beberapa tekstur istilah yang memiliki resonansi khusus di antara orang Afrika Selatan - serta garis waktu peristiwa sejarah Afrika Selatan yang kami rasa sangat membantu dalam memahami apa yang telah terjadi sejak penjajah kulit putih pertama kali menempatkan diri di ujung selatan Afrika.



Read more
Minggu, 13 Januari 2019
no image

Penulis: Alissa Wahid

Disrupsi menjadi kata yang sedang happening beberapa tahun terakhir ini. Bukan hanya sekadar fenomena, disrupsi telah mengubah kehidupan manusia secara drastis. Ia 'mengganggu' praktik bisnis, penyebaran pengetahuan, interaksi antarmanusia, juga mengubah keseharian. Tanpa harus keluar rumah, kita bisa berbelanja. Bahkan tanpa harus diterima di Universitas Harvard, AS, kita bisa belajar dari para profesor di universitas tersebut.

Pemanfaatan informasi dan kecanggihan teknologi ini juga membawa perubahan pada karakter masyarakat. Sharing economy membawa perubahan hubungan ekonomi antara buruh dan majikan menjadi partner dan berujung pada penguatan egalitarianisme. Sikap proaktif dan disiplin diri menguat seiring dengan meningkatnya peluang kerja sama tersebut.

Kendali proses yang tadinya berada pada penyedia layanan dan produk pun bergeser pada kendali di tangan penerima manfaat (konsumen, klien). Beberapa perusahaan mampu menyesuaikan dirinya dan dapat memanfaatkan era ini dengan baik. Beberapa perusahaan lain tutup usaha karena tak mampu keluar dari praktik business as usual.

Dalam politik dan kewargaan, kita melihat wujud disrupsi pada partisipasi warga. Media sosial dan petisi online menjadi kanal penyampaian aspirasi yang mujarab untuk memengaruhi kebijakan publik. Intinya, di era disrupsi, hubungan antara warga dan pemimpin menjadi semakin egaliter, tidak lagi selayak atasan-bawahan.

Para politisi dan pejabat publik akhirnya akan berhadapan dengan realitas baru: mereka dituntut untuk menunjukkan akuntabilitas antara perilaku di belakang layar dan di bawah lampu sorot publik. Politisi dan pejabat publik yang tak peka terhadap fenomena ini tak akan mampu mempertahankan integritasnya di mata publik sebagaimana kita lihat contohnya beberapa waktu terakhir. 

Demikian juga dalam kehidupan beragama. Tak dapat dimungkiri, perubahan kebiasaan akibat teknologi informasi turut membawa pengaruh cukup besar. Secara tradisional, otoritas keagamaan dibangun di atas kepemimpinan struktural yang sentralistik pada sebuah komunitas geografis.

Para pemuka agama pada umumnya adalah mereka yang memiliki kedudukan struktural pada organisasi berbasis agama. Mereka yang memiliki standar keilmuan yang diakui dari berbagai lembaga pendidikan agama juga disebut sebagai pemuka agama. Selain itu, para pemuka agama adalah mereka yang menggerakkan dan menjadi sumbu kehidupan agama di sebuah lokal masyarakat, sebagaimana kita mengenal kiai-nyai di berbagau pelosok Nusantara.

Namun, dalam konteks era disrupsi, otoritas keagamaan pun mendapatkan tantangan. Karakter umat yang lebih proaktif dalam mencari informasi membuat umat menentukan sendiri konten maupun pemuka agama yang dipilihnya. Dinamika hubungan yang lebih egaliter antara umat dan pemuka agama di internet membuat kepemimpinan tak lagi bertumpu pada struktur organisasi keagamaan.

Pemuka agama tak dapat lagi memaksa umatnya untuk mempelajari ajaran agama secara bertahap sesuai dengan standar tradisional. Pun, pemuka agama tak dapat lagi memaksa umat untuk menghormatinya sebagaimana umat zaman old menghormati otoritas strukturalnya. Adagium lama respect is earned menemukan esensinya justru pada kehidupan beragama di era disrupsi.

Dalam aspek konten informasi, ajaran agama yang paling banyak tersedia, terutama melalui kanal-kanal media baru, memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan pengikut. Pada aspek penyedia informasi, kelompok dan pemuka agama yang secara aktif dan konsisten menyebarkan ajarannya dengan kepekaan terhadap karakter umat zaman now juga akan memiliki pengaruh lebih besar. KH Nadirsyah Hosen yang berada nun jauh di Australia memiliki pengaruh cukup besar karena kehadirannya di media sosial.

Para fenomenolog beberapa dekade lalu memprediksikan bahwa globalisasi akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat kepada agama. Namun, kebalikannya justru terjadi semangat religiusitas masyarakat meningkat di berbagai sudut dunia.

Sayangnya, data riset di Indonesia membuktikan pergeseran nilai yang cukup pesat dalam hal kehidupan beragama, ke arah yang tidak kita harapkan: eksklusivisme dan ekstrimisme agama.

Ajaran agama yang menggelorakan semangat superioritas atas kelompok agama lain serta membangun tembok-tembok antara umat dan liyan tampak makin menonjol.

Ini menunjukkan bahwa banyak pemuka agama gagap terhadap disrupsi. Mereka masih bertahan pada keyakinan dan proses bisnis lama, dan tidak segera menyelaraskan diri terhadap perkembangan mutakhir ini. Karena itu, ajaran agama yang selama ini menghidupi Nusantara yang ramah terhadap keberagaman dan semangat kebangsaan pun meluntur digerus semangat zaman yang eksklusif.

Kritik para milenial di diskusi akhir 2018 lalu adalah bahwa para senior dan pemuka agamanya terlalu sibuk dengan gagasan besar tentang agama yang merahmati semesta, tetapi kurang hadir di ruang-ruang yang paling dibutuhkan dan dengan gaya yang sesuai dengan umat zaman now. 

Rasanya, sudah saatnya para pemuka agama mendengarkan kritik ini. Bila tidak, siapkah para pemuka agama untuk mengalami nasib seperti bisnis yang tergulung oleh era disrupsi ini?

Read more
Jumat, 11 Januari 2019
no image


KLATEN – Sudah lama punya hobi bertualang sekaligus mengabadikan momen-momen berharga di sepanjang perjalanan menggunakan kamera video? Sekaranglah waktunya membuat resolusi untuk tahun depan bahwa kedua hobi yang saling terpaut tersebut musti menelurkan karya yang lebih serius, seperti film dokumenter.

Tidak sedikit film dokumenter karya anak bangsa yang meraih penghargaan di kancah internasional. Sebut saja “Jalanan”, yang mengisahkan tiga musisi jalanan Jakarta, terpilih sebagai film dokumenter terbaik di Busan International Film Festival di Korea pada 2013.

Ada pula “Renita, Renita” karya Tonny Trimarsanto, yang mengisahkan kehidupan transgender asal Donggala di Jakarta, terpilih sebagai Best Short Asia Film di Cinemanila International Film Festival 2007 di Filipina dan Best Film di Culture Unplugged International Film Festival 2009 di India.

Tertantang membuat film dokumenter? Rumah Dokumenter yang beralamat di komplek perumahan Griya Prima Barat 5/19 Belang Wetan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, adalah salah satu tempat yang bisa dikunjungi untuk belajar lebih dalam hal ihwal film dokumenter.

Rumah Dokumenter adalah sebutan untuk tempat tinggal Tonny Trimarsanto bersama istri dan tiga anaknya. Di rumah yang memadukan arsitektur Jawa berupa pendopo untuk ruang depan dan gaya modern-minimalis di ruang tengah dan belakang itu, Tonny menggembleng para sineas muda dari berbagai daerah yang berminat menekuni film dokumenter tanpa memungut biaya.

“Biasanya banyak yang ke sini pada awal tahun atau saat musim libur sekolah. Ada juga yang menginap berhari-hari, saya sediakan tempat di ruang studio (lantai atas),” kata Tonny pada Rabu, 20 Desember 2017. Di Rumah Dokumenter, Tonny tidak memberikan materi tentang teknik mengambil gambar yang bisa dipelajari sendiri dari internet.

“Tapi lebih berupa pendampingan kepada para sineas muda dalam menerjemahkan gagasan mereka ke dalam film dokumenter,” kata Tonny yang baru meraih Piala Citra kategori film dokumenter panjang terbaik dalam penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2017 di Manado pada 11 November lalu berkat karyanya yang berjudul Bulu Mata.

Menurut Tonny, proses pembuatan film dokumenter secara garis besar bisa dikelompokkan dalam enam tahapan, yaitu:

1.       Menterjemahkan Ide

Sumber ide untuk film dokumenter bisa dari berita, buku bacaan, hasil penelitian, cerita orang, hasil pengamatan lingkungan sosial, dan lain-lain. Ide cerita film bisa sangat umum, subyeknya dapat berubah atau berganti.

Berbeda dengan film fiksi yang adegan dan jalan ceritanya bisa didesain sesuka hati, semua peristiwa dalam film dokumenter adalah nyata,. “Maka itu pembuat film dokumenter harus melakukan riset untuk mencari tokoh yang dapat mewakili ide cerita,” kata Tonny.

2.       Mencoba Riset

Riset bisa dilakukan dalam dua cara, yaitu riset pustaka dan riset visual (lapangan). Dalam riset visual, pembuat film dokumenter akan mengumpulkan data yang sesuai dengan ide cerita, mencari tokoh yang akan menjadi narasumber dalam film, menentukan lokasi shooting dan menghitung lamanya waktu shooting.

3.       Menulis Shooting Script

Dari hasil riset, pembuat film dokumenter punya gambaran konkret tentang karakter dan subyek yang dirangkum dalam sinopsis. Langkah selanjutnya adalah menulis shooting script guna membuat alur cerita untuk menyampaikan pesan dalam film.

4.       Merekam Peristiwa

Buat jadwal shooting dan upayakan menepatinya. “Setia pada jadwal itu prioritas, harus tepat waktu agar tak kehilangan momen,” kata Tonny. Dalam proses merekam, pembuat film dokumenter juga harus membayangkan proses editingnya untuk menata urutan adegan yang sedang direkam.

5.       Pasca-produksi

Meninjau semua materi shooting yang didapat, membuat transkrip wawancara, mengedit script, memotong dan menyusun gambar sesuai dengan informasi-estetik-dramatik, dan menata peristiwa, musik, serta informasi yang harus muncul dominan dalam sepanjang durasi film. “Pasca-produksi adalah fase terakhir yang sangat menantang,” kata Tonny.

6.       Mencari Festival

Pembuat film harus dapat mengukur kualitas dan pencapaian karyanya. Setelah itu baru memilih dan mencari festival, ajang untuk membuka akses. Jika film yang dikirimkan ikut diputar dan dikompetisikan, kurator dan festival film dunia akan mudah mengakses. “Sekarang, tiap tahun ada puluhan festival film dunia yang menyodori saya form aplikasi atau sekadar menanyakan karya film baru saya via email,” kata Tonny.

Read more

Recent